Ekspor Fesyen Halal ke Arab Saudi: Peluang dan Langkah untuk UMKM dan Supplier
Easystem   11 Oktober 2026   Dibaca 29 kali  

Peluang ekspor ke Arab Saudi kembali terbuka lebar bagi pelaku usaha Indonesia. Pada 6 Oktober 2026, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) memfasilitasi UMKM fesyen nasional tampil di 4th Saudi Fashion & Tex Expo 2026 di Jeddah, bekerja sama dengan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah. Langkah ini menjadi sinyal jelas: pasar Timur Tengah bukan lagi hanya tujuan ekspor perusahaan besar, tetapi juga peluang nyata bagi UMKM, produsen, dan supplier yang siap naik kelas.

Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menyatakan kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat konektivitas antara pelaku usaha Indonesia dengan pasar Arab Saudi "melalui pengenalan potensi produk, perluasan jejaring bisnis, promosi perdagangan, serta pembukaan peluang business matching dengan calon mitra dan buyer di pasar setempat." Menurutnya, ITPC Jeddah adalah perwakilan perdagangan Kementerian Perdagangan RI di bawah naungan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah.

Pasar Halal Global Masih Tumbuh

Dorongan ini bukan tanpa alasan. State of the Global Islamic Economy Report (SGIE) 2025/26 mencatat belanja konsumen Muslim pada enam sektor ekonomi Islam mencapai US$2,60 triliun pada 2024 dan diproyeksikan tumbuh menjadi US$3,56 triliun pada 2029.

"Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan industri halal global. Karena itu, sebagai bank syariah BSI ingin mengambil peran lebih dari sekadar menyediakan layanan keuangan, tetapi menjadi penghubung antara pelaku usaha dengan pembiayaan, teknologi, transaksi, jaringan bisnis, dan akses pasar," ujar SEVP Consumer Product Solution BSI, Wawan Setiawan.

Seberapa Besar Skala Pameran di Jeddah?

Saudi Fashion & Tex Expo 2026 diikuti peserta dari lebih dari 25 negara dengan lebih dari 550 perusahaan, serta menargetkan sekitar 10.000 pembeli perdagangan dan pengunjung industri. Paviliun Indonesia diisi 10 perusahaan fesyen dan tekstil, salah satunya Khanaan, UMKM fesyen yang merupakan nasabah kelolaan BSI.

Selain pameran, digelar forum Halal Creative yang mempertemukan pemangku kepentingan dari sektor perbankan syariah, sistem pembayaran, pemerintah, perdagangan, dan industri fesyen. Forum ini merupakan kolaborasi BSI, Visa, KJRI Jeddah, KBRI Riyadh, serta praktisi industri fesyen dari sejumlah negara.

Momentum di Dalam Negeri: BSI International Expo 2026

Pelaku usaha yang belum siap ekspor langsung tetap punya jalur masuk. BSI International Expo 2026 digelar pada 22-25 Oktober 2026 di JICC Hall A & B, Jakarta, dengan tema "Buy Local Go Global". Ajang ini dirancang sebagai business platform yang mempertemukan UMKM, brand lokal, industri halal, buyer, investor, dan konsumen.

SEVP Digital Banking BSI M. Misbahul Munir menambahkan BSI melakukan pembinaan melalui UMKM Center, digitalisasi, pendampingan sertifikasi halal, hingga mempertemukan pelaku usaha dengan potensial buyer, termasuk dari pasar global. BSI juga menargetkan kantor cabang di Jeddah mulai beroperasi pada November 2026 untuk menggarap ekosistem halal, termasuk haji dan umrah.

Langkah Praktis agar Produk Siap Tembus Pasar Arab Saudi

  1. Rapikan legalitas usaha. Pastikan NIB, NPWP, akta pendirian, dan rekening atas nama badan usaha sudah siap, karena calon buyer umumnya meminta dokumen ini di tahap awal.
  2. Siapkan sertifikasi halal sejak dini. Pasar Arab Saudi sangat sensitif pada aspek kehalalan, sehingga sertifikat halal menjadi nilai jual, bukan sekadar pelengkap.
  3. Buat profil produk yang siap dinegosiasikan. Sertakan spesifikasi bahan, ukuran, foto berkualitas, kapasitas produksi per bulan, MOQ, harga FOB, dan estimasi waktu pengiriman.
  4. Tentukan skema masuk pasar. Pilih ekspor langsung, bermitra dengan importir/distributor setempat, atau menggandeng agen di Timur Tengah sesuai kapasitas modal dan produksi.
  5. Manfaatkan jalur resmi. ITPC Jeddah dan perwakilan dagang RI bisa membantu promosi, perkenalan buyer, hingga business matching.
  6. Hitung struktur biaya ekspor secara utuh. Masukkan logistik, kemasan khusus ekspor, sertifikasi, pungutan di negara tujuan, dan fluktuasi kurs ke dalam harga jual.
  7. Ikut pameran dan business matching. Ajang seperti BSI International Expo memberi kesempatan bertemu buyer tanpa harus langsung terbang ke luar negeri.
  8. Jaga kapasitas dan konsistensi kualitas. Buyer besar menilai kemampuan pasokan berulang, bukan hanya sampel sekali kirim.

Yang Sering Diabaikan Pelaku Usaha Baru

  • Label dan kemasan tidak disiapkan dalam bahasa Arab atau Inggris, sehingga produk sulit diterima ritel setempat.
  • Jadwal produksi tidak disesuaikan dengan musim permintaan, padahal Ramadan dan musim umrah-haji adalah periode puncak untuk produk fesyen dan suvenir.
  • Harga ekspor disamakan dengan harga ritel domestik, sehingga tidak menyisakan margin setelah biaya logistik dan pungutan.
  • Rantai pasok tidak dipetakan, sehingga supplier bahan atau produsen tidak siap saat pesanan naik mendadak.

Peluang Bukan Hanya untuk Brand Fesyen

Rantai ekspor membuka ruang bagi banyak pihak. Selain brand fesyen, ada produsen kain, aksesori, dan perhiasan; penyedia jasa kemas; penyedia logistik; hingga reseller dan agen yang bisa menangkap pasar domestik dari produk lokal yang mulai dikenal di luar negeri. Posisi sebagai supplier bahan atau mitra produksi sering menjadi langkah paling realistis untuk masuk ke rantai pasok halal global.

Kesimpulannya, jalur ekspor ke Arab Saudi tidak lagi tertutup bagi usaha kecil. Kuncinya adalah menyiapkan legalitas, sertifikasi halal, dan dokumen produk, lalu memanfaatkan kanal yang tersedia seperti ITPC Jeddah, perwakilan dagang RI, serta pameran dan business matching. Mulai dari satu pasar, satu buyer, dan satu kategori produk yang benar-benar dikuasai.

Sumber:

 
Tags :
ekspor fesyen halal arab saudi umkm supplier

Bagikan :